Home Tutorial Hunwick?Profix
Tulis Dari Hati, Baru Dapat Menyentuh Hati

Wednesday, September 27, 2023

Dewasa

Dengarkan sayang lagu ini untukmu
Selalu terlintas rasa rindu padamu
Menunggu awan bawa rasaku
Gelap malam menjawabmu
Bintang temani mimpi hatiku



Apakah dewasa memang seperti ini? Tentang sepi yang menjadi wajar? Atau hanya tentang diri sendiri yang bisa dipercaya?

Aku tidak menyangka bahawa dewasa bisa sesepi ini. Banyak cerita yang harus disimpan. Banyak keluh kesah yang harus tertahan. Banyak perasaan yang terasa lebih baik jika dipendam. 

Meski aku tahu bahawa Tuhan selalu menemani, tapi rasanya, aku tetap memmerlukan seseorang yang boleh diajak berbicara, mendengarkan isi fikiran dan bertukar pendapat.

Dulu, aku pernah meminta agar debar itu disegerakan sirna. Tapi Tuhan memperlakukan aku seolah tidak pernah mendengar pinta itu.

Ia membiarkan debar itu semakin penuh pada ruang yang tidak begitu luas. Mempersilakan aku untuk jatuh cinta sejatuh yang aku bisa. Membiarkan aku bergembira pada khabar dan haluan yang aku buat. Hilang kendali, dibuat senang oleh prasangkaku sendiri.

Sampai suatu ketika, Tuhan mendatangkan kejadian untuk menyampaikan suatu pesan yang paling menyakitkan. Menguris habis hati yang penuh dengan harapan. Membakar bayangan yang menjadi memori paling bodoh untuk disimpan. Ketika itu, jatuh cinta menjadi bahagian terpahit bagi manusia yang dibunuh oleh prasangkanya sendiri.

Sampai disini aku faham, bahawa Tuhan selalu mempunyai cara terbaik untuk menjawab pinta seorang hamba-Nya. Tuhan tidak hanya menghilangkan debar itu saja, tapi membuatnya tidak akan kembali lagi.  Menginginkan agar debar itu tidak lagi punya kesempatan untuk dikenang kembali dengan perasaan senang. 

Menunggu rengkuh yang penuh, dari waktu ke waktu, dari rindu menuju rindu.
Menanti dekap yang hangat, dari masa ke masa, dari cinta menuju selamanya.

Berapa kali mengupayakan suatu hubungan, berapa kali juga ia begitu susah untuk dipertahankan. 

Yang lama seringnya mudah untuk kalah, dan yang baru terlalu mudah untuk menang. Betapa luar biasanya kita membangun dan mempertahankan suatu hubungan dengan manusia, sedangkan hubungan dengan pencipta, sering kita lalaikannya.

Apakah persahabatan ketika dewasa memang seperti ini: mempertahankan, takut ditinggalkan, lalu berujung sepi dan ramai hanya dalam pikiran.

Apakah aku sedih? Tentu saja. Impian itu sering kusebut dalam pinta. Semoga saja, ketika telah pantas impian itu bisa kuraih lagi dengan diri yang telah lebih siap. 

Kadang aku berpikir, bagaimana perasaanmu jika mengetahui bahwa aku adalah salah satu orang yang melangitkan pinta untuk segala pada hidupmu?

Segala doa telah pun kulangitkan. Kalaupun ia belum terwujudkan, mungkin rasa sabar masih harus terus dipanjangkan.

Aku memaafkan semuanya walaupun tidak ku tahu kesalahan mana yang harus aku maafkan. 

Kalau memang bukan dan tidak ada takdir-Mu di dalamnya, semoga aku dimampukan untuk memulai langkah baru dengan hati yang lebih lapang. Sebab jika memang begitu, bererti aku sedang meniti jalan yang membawa aku kepada ketetapan-Mu. 

Aku sepenuhnya yakin, bahawa apa yang telah terlakar tak akan mungkin tertukar. Aku mohon supaya tuntun aku, bagaimanapun akhirnya.




Rasa-rasanya setelah aku telaah kembali, kebelakangan ini tulisanku banyak yang mengutarakan perihal perasaan, galau, hati dan pasangan.

Teringat sebuah pesan yang mengatakan bahawa seseorang hamba akan diuji dengan apa yang paling ia inginkan. Mungkin itulah yang kini menjadi ujian.

Ya. Aku akui.
Soal jodoh dan pernikahanlah yang menjadi perkara yang aku sungguhkan.

Di setiap pinta yang melangit, terselit di celah-celah pinta itu tentangnya. Tentang dia yang masih rahsia. Sampai akhirnya tuhan benar-benar mengujiku dengan segala kegalauan dan kegelisahan. Penantian yang akhirnya membuat topik perbicaraanku tak jauh dari hal itu.

Salahkah aku?

Entahlah. Mungkin fikiranku masih terlalu mentah menilai ibadah hanya semata sempurna dengan menikah. Sampai akhirnya hanya itu yang sering berpinar di kepala. Menggalaukan dia, mencari-cari keberadaannya.

Padahal, masih banyak hal lain yang saat ini sepatutnya aku seriuskan. Berbakti kepada orang tua salah satunya.

Tuhan, tolong tuntun aku. Tuntun aku menapai jalan amalan terbaik menujuMu saat ini.

Saat hambamu ini masih sendiri.

Sunday, August 27, 2023

Jarak


Aku suka jarak kita yang seperti ini. Tidak begitu dekat, cenderung jauh. Tidak banyak kesempatan bertemu, tidak banyak juga kesempatan untuk berbicara asyik menghimpun rindu.

Tapi, hati mana yang mencintai tanpa rasa khuatir? Apalagi bagi mereka yang mencintai namun bersembunyi. Diam-diam memperhatikan, diam-diam berharap, diam-diam meminta. 

Jarak ini cenderung jauh, lalu bagaimana cara kita bertemu? 

Jarak ini cenderung jauh, lalu pada kesempatan mana kita bercengkerama lalu saling merasa bahawa apakah dia orangnya?

Jarak ini begitu jauh, lalu bagaimana mungkin kita akan merasa saling, sedang aku hanyalah manusia yang takut untuk memperlihatkan inginku? Kerana mencintai dalam diam saja sudah membuatku merasa susah untuk menutupinya.

Bagi seseorang yang mencintaimu ini meski khuatir, bukankah alam sudah menjawabnya dari kisah-kisah orang lain. Bahawa jarak tidak menjadi penghalang bagi mereka yang sudah dikehendaki untuk bersatu. 

Seberapapun jauhnya, ketidakmungkinan hanya sebatas manusia dan bukannya Tuhan.

Bertemu denganmu adalah teka-teki yang tak berani untuk aku jawab dengan pengetahuanku yang sedikit dan terbatas. Aku menikmati waktu-waktu untuk sampai pada jawapan itu meski sungguh semua ini tidak singkat dan amat berisiko. 

Beberapa kali sikap baikmulah yang membuat aku bertahan dalam menunggu dan berharap. Entahlah, semua ini sepertinya tidak baik tapi terkadang aku melakukannya pun tanpa sedar.

Berapa jauh jarak yang harus aku bentang untuk kita sama-sama baik dalam hati mahupun sikap? 
Berapa kali pertemuan yang harus aku hindari agar kita sama-sama lupa? Bagaimana seharusnya aku bersikap agar perasaan kita bisa hilang terhadap satu sama lain? Atau harus berapa kerap aku berdoa agar jawabannya lekas jelas juga?

Atau bisa jadi, sebenarnya ini hanyalah tentang aku sendirian. Bukan kamu, bukan juga tentang kita. 

Ya, semuanya bisa jadi hanya aku yang merasakannya sehingga mengapa ini amat membingungkan.


Ya Allah, aku sedang tidak baik-baik saja. Hatiku sedang tidak baik-baik saja ya Allah. Padahal yang terlihat hanya secebis dari apa yang dinampakkan, namun hatiku tidak baik-baik saja. 

Pada akhirnya aku faham, hanya Engkau yang tetap kekal dan tinggal. Jadi sekalipun pada akhirnya mereka pergi, aku mohon ganti mereka dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi. Dan aku mengimani takdir, bahawa setiap takdirMu adalah baik untukku tanpa terkecuali. 


Siang itu akan selalu kuingat. Hari dimana aku duduk berdua denganmu. Merasakan hadirmu yang membuatku hangat. Terpegun aku akan indahnya ciptaan Tuhan yang duduk dihadapanku.

Tawamu tersipu menggeletek hatiku. Tatapan indah yang tak jemu ku temu. Berwarna coklat terang, seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur. Perlahan mengisi relung yang telah lama sepi.

Jika saja aku bisa sejenak menghentikan waktu. Untuk dapat lebih masa bersama. Mendengar lembut tuturmu yang membuat jiwa tenang. Untuk sesaat merasakan damai dalam hidupku.

Dalam buai angan aku tenggelam. Kau hanyalah mentari yang hangatnya tak dapat aku genggam. Tuhan sudah gariskan dalam gelapnya malam. Dalam kidung merdu tanpa bait dan langgam.

"Aku menyayangimu".

Dua kata yang sering aku telan. Rasa yang sekuat tenaga aku tahan. Dua kata dalam doa yang terus aku aminkan. Maafkan aku yang tak cukup berani menentang takdir Tuhan. 

Bila kelak kita sampai di kehidupan selanjutnya. Akan aku ulangi semua agar berjumpa. Meskipun ku tahu semua akan berakhir sama. Aku akan terus melakukannya. Hingga kelak kita akan bahagia bersama.

Jika nanti aku pergi, ketahuilah bahawa kamu pernah menjadi sosok yang ada dibalik setiap tulisan-tulisan yang pernah kutuliskan.

Mereka adalah pengingat bahawa dalam hidup yang singkat ini, aku pernah mencintaimu begitu sangat. Namun aku tidak akan bisa menang melawan keraguan dan ketakutan dalam diriku.

Labels

Perasaanku (20) Sayang (14) Ujian (13) Semangat (7) Ukhuwah (5) Cerpen (1) Suka (1) Yasmin J Hunwick (1)